Ilusi Cinta: Jatuhnya Hati ke Tempat yang Salah

Ilusi Cinta: Jatuhnya Hati ke Tempat yang Salah

Saya termasuk orang yang tidak mudah untuk jatuh cinta terhadap seorang wanita, tapi saya tetap suka dengan keindahan wanita seperti pria pada umumnya. Ya, di mata saya wanita tetap sebuah bunga yang harum dan nyaman untuk dipandang. Dan saya juga teringat kisah Nabi Adam AS yang merasa kesunyian di dalam surga, namun semuanya berubah bahagia tatkala Allah menghadirkan Ibunda Hawa.

Bahkan sebuah potongan lirik lagu “Hidup Tanpa Cinta, Bagai Taman Tak Berbunga” cukuplah satu lirik itu mewakili perasaan seseorang pujangga cinta, rasa bahagia yang tak bisa digambarkan jadi bukti cinta itu membutakan.

Pria dan Wanita memang sudah takdir Allah untuk saling cinta, saling menyatukan, saling melengkapi, saling membahagiakan, dan ada saatnya berbagi kesedihan. Jika, semua itu sudah pernah dilewati tanpa harus ada permusuhan apalagi perpisaahan, itulah cinta sejati namanya. Namun, harus dicatat hanya segelintir orang saja yang bisa demikian di akhir zaman seperti sekarang.

Gonta-ganti pasangan dan peceraian seakan menjadi budaya akhir zaman, pemaksaan saat berhubungan kian sering terungkap dipermukaan, dan jika melihat secara mendalam wanitalah yang banyak menjadi korban. Apakah itu kodrat sebuah cinta?

Hmm, bagi saya itu hanya sebuah ilusi cinta semata. Sebuah cinta palsu yang hadir bukan karena ketulusan bukan karena ingin berbagi kasih sayang dan tidak ada tujuan selain karena nafsuan. Saya sangat percaya bahwa cinta itu suci, bersih, ‘saling’ memiliki untuk ‘saling’ membahagiakan, dan punya tujuan yang jelas untuk ke pelaminan.

Tidak ada kasus cinta yang nafsuan punya akhir yang membahagiakan, bahkan kebanyakan yang ada hanya kesedihan dan keputus-asaan. Parahnya lagi jika hal itu bisa membelenggu hati terhadap cinta yang asli, membuat diri berulang-ulang jatuh terhadap cinta ilusi. Pembenaran pun datang saat ada hubungan dalam ujung kebersamaan, ribuan alasan menjadi kambing hitam untuk membela cinta yang hitam.

Akhirnya, saat sudah menemukan titik jenuh dari hal itu, barulah sadar bahwa “sudah jatuh hati ke tempat yang salah”.

Komentar